Hoo Tong Bio Banyuwangi

Klenteng Hoo Tong Bio

Klenteng Hoo Tong Bio adalah klenteng tertua di Jawa Timur dan Bali yang dibangun pada tahun 1784 oleh komunitas Tionghoa. Berlokasi di pusat Kota Banyuwangi, tempat ibadah Tri Dharma ini menjadi "klenteng induk" dari sembilan klenteng di Jawa Timur, Bali, dan Lombok. Pernah mengalami kebakaran hebat pada 2014, bangunan ini kini berdiri megah kembali sebagai simbol pluralisme agama dan destinasi wisata sejarah yang kaya akan arsitektur, budaya, dan cerita perjuangan Kongco Tan Hu Cin Jin.

Jika Banyuwangi dikenal dengan pesona pantai dan gunungnya, maka Klenteng Hoo Tong Bio menghadirkan kekayaan sejarah dan budaya yang tak kalah memikat. Berlokasi di Jalan Ikan Gurami Nomor 54, Karangrejo, bangunan ini merupakan klenteng tertua di Jawa Timur dan Bali yang didirikan pada tahun 1784 oleh komunitas Tionghoa . Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) ini menjadi "klenteng induk" dari sembilan klenteng Chen Fu Zhen Ren yang tersebar di Jawa Timur, Bali, dan Lombok . Inilah destinasi yang memadukan nilai sejarah, spiritualitas, dan keunikan arsitektur yang jarang ditemukan di tempat lain.

Klenteng Induk dengan Nilai Sejarah Tinggi

Klenteng Hoo Tong Bio didirikan sebagai penghormatan kepada Kapiten Tan Hu Cin Jin, seorang tokoh yang berjasa besar menyelamatkan etnis Tionghoa di Blambangan dari penindasan kolonial . Awalnya, klenteng ini dibangun di Lateng, Rogojampi, namun akibat perampasan tanah oleh VOC, klenteng dipindahkan ke lokasi sekarang di pusat Kota Banyuwangi . Sebagai klenteng induk, perayaan di sini menjadi yang paling ramai dikunjungi umat Tri Dharma dari berbagai daerah.

Arsitektur Tionghoa yang Autentik dan Artistik

Klenteng ini memiliki luas sekitar 300–400 meter persegi dengan tinggi mencapai 9 meter, mampu menampung hingga 500 umat dalam satu waktu . Dominasi warna merah yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, serta atap melengkung dengan ornamen naga yang artistik menjadi ciri khas bangunan ini . Gerbang utama dengan tiga pintu masuk—pintu tengah untuk ritual dan dewa, dua pintu samping untuk umat—mencerminkan filosofi Yin dan Yang.

Kebakaran 2014 dan Revitalisasi

Pada 13 Juni 2014, kebakaran hebat meluluhlantakkan sekitar 80 persen bangunan, termasuk tiga prasasti kayu berusia ratusan tahun . Dari 16 patung dewa yang dipuja, hanya 4 yang berhasil diselamatkan . Berkat semangat kebersamaan umat dan bantuan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, klenteng ini berhasil direvitalisasi dengan anggaran sekitar 8 miliar rupiah . Kini, bangunan berdiri kembali megah dan ditetapkan sebagai cagar budaya Indonesia yang dilindungi.

Perayaan Budaya dan Wisata Religi

Klenteng Hoo Tong Bio tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan budaya. Pagelaran Barongsai dan Tari Kipas selalu meriah saat perayaan Tahun Baru Imlek dan hari jadi klenteng . Pada 2026, perayaan hari jadi ke-242 mengusung konsep "Euni Kimsin", di mana delapan rupang (patung dewa-dewi) dari berbagai kelenteng se-Jawa dan Lombok dikumpulkan di satu altar—pemandangan langka yang memukau . Perayaan ini juga melibatkan UMKM lokal yang menjajakan kuliner khas, menciptakan harmoni antara wisata religi dan ekonomi kreatif.

Informasi Praktis

Lokasi: Jalan Ikan Gurami Nomor 54, Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi.

Akses: Berada di pusat kota, mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Jarak dari Taman Blambangan sekitar 10 menit berkendara.

Jam operasional: Setiap hari, namun disarankan berkunjung pada pagi hingga sore hari untuk aktivitas wisata.

Waktu terbaik: Perayaan Tahun Baru Imlek dan hari jadi klenteng (sekitar Maret–April) menjadi momen terbaik untuk menyaksikan pagelaran budaya.

Tips berkunjung: Kenakan pakaian sopan dan tertutup. Minta izin kepada pengurus sebelum memotret di area altar utama.

Klenteng Hoo Tong Bio adalah destinasi yang wajib dikunjungi bagi Anda yang ingin menyelami sejarah, seni, dan spiritualitas di Banyuwangi. Perpaduan arsitektur Tionghoa autentik, nilai sejarah yang tinggi, serta tradisi budaya yang terjaga menjadikannya salah satu ikon wisata religi dan budaya paling menarik di ujung timur Pulau Jawa.

FAQ

Kelenteng ini adalah yang tertua di Jawa Timur dan Bali (dibangun 1784), menjadi klenteng induk dari sembilan klenteng di Jawa Timur, Bali, dan Lombok, serta menyimpan nilai sejarah tinggi sebagai simbol pluralisme agama dan cagar budaya.
Dewata utama yang dipuja adalah Yang Mulia Kongco Tan Hu Cin Jin (Chen Fu Zhen Ren), seorang tokoh yang dihormati karena jasanya menyelamatkan komunitas Tionghoa di Blambangan pada masa kolonial.
Kelenteng ini mengalami kebakaran hebat pada 13 Juni 2014 yang menghanguskan sekitar 80% bangunan dan banyak artefak bersejarah. Bangunan kemudian direvitalisasi dengan anggaran 8 miliar rupiah dan kini menjadi cagar budaya.
Konsep perayaan tahun 2026 di mana delapan rupang (patung dewa-dewi) dari berbagai kelenteng lintas provinsi dikumpulkan di satu altar, menciptakan pemandangan spiritual yang megah dan jarang terjadi.
Wisatawan dapat menikmati arsitektur khas Tionghoa, mengikuti ritual ibadah, menyaksikan pagelaran Barongsai dan atraksi budaya saat perayaan Imlek, serta belajar sejarah dan pluralisme agama di Banyuwangi.
Klenteng ini memiliki luas sekitar 300–400 meter persegi dengan tinggi 9 meter, mampu menampung hingga 500 umat.
Chat WhatsApp