Rawa Bayu

Rowo Bayu

Telaga mistis, petilasan kerajaan, sumber air abadi, sejarah Puputan Bayu Rowo Bayu, permata sejarah di lereng Gunung Raung.

Jika Banyuwangi identik dengan pesona pegunungan vulkanik dan pantainya, maka Rowo Bayu menghadirkan wajah alam yang berbeda—tenang, mistis, dan sarat sejarah. Tersembunyi di lereng Gunung Raung pada ketinggian 800 mdpl, telaga ini dikelilingi pepohonan rimbun yang menciptakan suasana adem dan damai, jauh dari hiruk-pikuk kota . Rowo Bayu sering disebut sebagai "Telaga Mistis di Lereng Gunung Raung" atau "Cikal Bakal Banyuwangi" karena menyimpan kepingan sejarah Kerajaan Blambangan sekaligus tempat favorit Raja Tawang Alun bermeditasi .

Berada di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, kawasan ini menawarkan pengalaman wisata yang unik. Bukan sekadar telaga biasa, Rowo Bayu adalah perpaduan antara keindahan alam, wisata spiritual, dan situs sejarah yang hingga kini masih dijaga kesakralannya . Inilah destinasi yang memadukan pesona telaga tenang, petilasan kuno, mata air abadi, dan cerita rakyat yang turun-temurun.

Petilasan Prabu Tawang Alun dan Tiga Sumber Keramat

Daya tarik utama Rowo Bayu adalah petilasan Prabu Tawang Alun, Raja Blambangan yang konon sering bersemedi di tempat ini . Di lokasi tersebut terdapat sebuah batu dengan cetakan bekas kaki sang raja saat bertapa, yang kini dilindungi bangunan seperti candi . Tak jauh dari petilasan, terdapat tiga sumber mata air yang tidak pernah kering meski musim kemarau panjang: Sumber KamulyanSumber Kaputren, dan Sumber Panguripan . Ketiganya dipercaya memiliki tuah masing-masing dan digunakan untuk kegiatan ritual spiritual, bukan untuk mandi atau buang air .

Saksi Bisu Sejarah Perang Puputan Bayu

Rowo Bayu bukan hanya tempat bersejarah bagi kerajaan, tetapi juga menjadi saksi perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajah Belanda dalam Perang Puputan Bayu pada 18 Desember 1771 . Perang habis-habisan ini menewaskan puluhan ribu rakyat Blambangan dan menjadi cikal bakal lahirnya Kabupaten Banyuwangi. Bahkan, Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) terinspirasi dari peristiwa ini dan perayaannya kerap dipusatkan di Rowo Bayu .

Suasana Tenang, Adem, dan Sarat Mistis

Berada di lereng Gunung Raung, Rowo Bayu menawarkan udara sejuk dan suasana yang sangat tenang. Pepohonan besar dan rimbun mengelilingi telaga, menciptakan vibes "dunia lain" yang misterius namun indah . Karena itulah, Rowo Bayu juga dikenal sebagai tempat favorit bagi mereka yang ingin melakukan ritual spiritual, ziarah, atau sekadar "healing" dari penatnya kehidupan kota .

Keberadaan Rowo Bayu juga sempat viral karena dikaitkan dengan cerita horor "KKN di Desa Penari" . Meski penulis cerita mengklarifikasi bahwa foto Rowo Bayu hanya digunakan sebagai ilustrasi, hal ini justru membuat tempat ini semakin dikenal dan menarik minat wisatawan penasaran .

Informasi Praktis

Lokasi utama: Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi .

Harga tiket: Sekitar Rp7.500-10.000/orang .

Akses: Berjarak sekitar 35–45 km dari pusat Kota Banyuwangi, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau umum dalam waktu sekitar 1–1,5 jam .

Jam buka: 24 jam, namun disarankan datang pada siang hari untuk menikmati keindahan alam dengan aman.

Waktu terbaik: Musim kemarau (Mei–Oktober), saat akses jalan tidak terganggu hujan dan suasana telaga terlihat lebih jernih.

Perlengkapan yang disarankan: Pakaian sopan (karena lokasi sakral), kamera, dan air minum.

Rowo Bayu adalah destinasi yang wajib masuk dalam itinerary wisata Banyuwangi bagi Anda yang ingin merasakan pengalaman berbeda. Perpaduan telaga tenang, sejarah Kerajaan Blambangan, mata air abadi, dan nuansa mistis yang kental menjadikannya tempat yang sarat akan cerita dan makna. Baik untuk pencinta sejarah, wisatawan spiritual, maupun yang sekadar ingin menikmati ketenangan alam, Rowo Bayu menawarkan pengalaman yang tak terlupakan .

FAQ

Karena lokasi ini menjadi saksi Perang Puputan Bayu pada 1771, yang menjadi inspirasi bagi Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi.
Petilasan Prabu Tawang Alun, tiga sumber mata air keramat yang tak pernah kering, serta suasana alam yang tenang dan mistis.
Musim kemarau (Mei–Oktober) untuk akses jalan yang baik dan suasana telaga yang jernih.
Tiket masuk sekitar Rp7.500-10.000/orang.
Sangat cocok. Suasana adem dan tenang menjadikannya tempat yang nyaman untuk semua usia, asalkan tetap menjaga sikap karena lokasi dianggap sakral.
Berziarah ke petilasan, menikmati keindahan telaga, berfoto di spot-spot menarik, dan merasakan ketenangan alam.
Chat WhatsApp