Taman Gandrung Terakota
Hamparan lebih dari 1.000 patung penari Gandrung dari gerabah di tengah sawah terasering, dengan latar Gunung Ijen dan Selat Bali. Perpaduan seni, budaya, dan alam yang memikat.
Bayangkan berjalan di antara hamparan sawah hijau yang masih aktif digarap petani, sementara di sekitar Anda berdiri lebih dari seribu patung penari dalam berbagai pose—itulah Taman Gandrung Terakota. Sebuah situs budaya yang didirikan untuk melestarikan ikon seni Banyuwangi, Tari Gandrung, dengan cara yang unik dan tak terduga .
Taman ini diresmikan pada September 2018 atas gagasan Sigit Pramono, seorang mantan bankir yang terinspirasi oleh Terracotta Warrior and Horses di Tiongkok. Ia menggandeng kurator seni dari Galeri Nasional Indonesia untuk mewujudkan visi ini . Hasilnya adalah taman seluas 3-4 hektare di kaki Gunung Ijen , tempat di mana seni dan alam hidup berdampingan.
Ribuan Penari dari Tanah Liat
Daya tarik utama taman ini adalah koleksi patung penari Gandrung yang terbuat dari terakota (gerabah atau tembikar) . Jumlahnya mencapai lebih dari 1.000 patung , tersebar di tepi dan di tengah hamparan sawah, kolam, hingga berbagai sudut taman . Patung-patung ini dibuat dengan detail ekspresi dan gerakan yang realistis , bahkan ada yang dibakar pada suhu 1.000 derajat Celcius . Filosofi di balik penggunaan gerabah yang ringkih dan tidak abadi ini adalah pengingat bahwa tiada yang kekal di dunia .
Harmoni Seni dan Alam
Lokasi taman di lahan persawahan aktif bukanlah tanpa alasan. Tari Gandrung sendiri berakar dari tradisi agraris masyarakat Banyuwangi, awalnya merupakan persembahan syukur kepada Dewi Sri (Dewi Padi) atas hasil panen yang melimpah . Karena itu, patung-patung penari ditempatkan berdampingan dengan aktivitas petani yang membajak sawah, menanam, dan memanen padi—sebuah harmoni antara seni dan kehidupan .
Berada di ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut , pengunjung juga dimanjakan dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Ke arah barat, Anda bisa melihat Gunung Ijen, Merapi, dan Meranti , sementara ke arah timur terbentang birunya Selat Bali . Udara sejuk dan segar khas pegunungan menambah kenyamanan saat menjelajahi taman.
Pusat Pelestarian Budaya
Taman ini bukan sekadar tempat foto. Di dalamnya terdapat Amfiteater Terbuka berkapasitas 700 orang yang menjadi pusat berbagai pertunjukan seni, termasuk festival musik tahunan Jazz Gunung Ijen . Pengunjung juga bisa menikmati sajian kuliner di Java Banana Café atau Roemah Tjokelat Ijen, serta membeli oleh-oleh khas Banyuwangi di Roemah Oleh-Oleh yang bekerja sama dengan UMKM lokal . Taman ini dikelola oleh Perkumpulan Seni Sarana Netra Indonesia (SENETRA) melalui Padepokan Seni Gandrung Terakota .
Taman Gandrung Terakota adalah bukti bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan dengan cara yang kreatif dan menyenangkan. Bukan sekadar melihat patung, Anda diajak untuk merasakan langsung filosofi, sejarah, dan keindahan yang menyertainya.
Informasi Praktis
-
Waktu terbaik: Pagi atau sore hari (golden hour) untuk mendapatkan cahaya foto terbaik dan menikmati suasana sejuk
-
Lokasi: Dusun Krajan, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi (kawasan Jiwa Jawa Ijen Resort)
-
Jam Buka: Bervariasi. Beberapa sumber menyebutkan 08.00 - 17.00 WIB , sementara yang lain 09.00 - 15.00 WIB (Selasa-Minggu, tutup Senin) . Ada juga yang menyebut buka setiap hari 06.00 - 18.00 WIB .
-
Harga Tiket: Mulai Rp100.000 per orang, sudah termasuk paket tur privat dengan pemandu, penjelasan sejarah, serta makanan dan minuman .
-
Fasilitas: Amfiteater terbuka, Java Banana Café, Roemah Tjokelat Ijen, Roemah Oleh-Oleh, Galeri Seni, Taman Unggas, area parkir, toilet, dan mushola .
-
Akses: Sekitar 1 jam dari pusat kota Banyuwangi. Kendaraan roda dua dan roda empat bisa masuk, tetapi bus besar tidak bisa. Jika menggunakan bus, tersedia shuttle bus dari rest area Tamansari dengan biaya tambahan mulai Rp10.000/orang .
Perlengkapan yang Disarankan
-
Kamera atau ponsel untuk mengabadikan momen
-
Pakaian nyaman dan alas kaki yang cocok untuk berjalan di area sawah
-
Jaket ringan (udara terasa sejuk)
-
Topi atau payung jika berkunjung siang hari
-
Uang tunai untuk oleh-oleh atau makanan tambahan